Era Baru Industri Musik Digital

Tuesday, January 10th, 2017 - Alat Musik Lainnya
Era Baru Industri Musik Digital

Era Baru Industri Musik Digital

Era Baru Industri Musik Digital – “Pemirsa yang ada dirumah, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh kontestan telah dapat Kamu download di itunes. com/xfactorindonesia, ” kata Roby Purba, presenter arena pencarian bakat X-Factor yang disiarkan oleh satu diantara stasiun TV swasta satu tahun silam. Di acara itu, sang presenter selalu mengingatkan atau mempromosikan kalau lagu-lagu yang dinyanyikan beberapa peserta dapat didownload di iTunes. Ditambah dengan teks yang nampak di monitor untuk memancing pirsawan mengunduh lagu-lagu dari kontestan favoritnya di handset Apple kepunyaannya.

Arena X Factor Indonesia jadi momentum dari service musik digital iTunes ke Indonesia yang ada mulai sejak 5 Desember 2012. Untuk di ketahui, iTunes Music yaitu pelopor dari service music digital yang digawangi oleh Apple mulai sejak 2003. Sekarang ini, ada katalog kian lebih 26 juta lagu yang ada di 119 negara, jadikan iTunes sebagai toko musik digital paling besar didunia. Perusahaa label musikpun memperoleh barokah dari hadirnya iTunes, satu diantaranya yang dihadapi Sony Music. Seperti disibakkan oleh Toto Widjojo, Managing Director Sony Music Indonesia waktu di program kerja “Trust+Positif” (Mei 2013) yang menyebutkan kalau pendapatan dari iTunes yang di jual Rp 3 ribu per lagu telah menaklukkan pendapatan dari RBT.

Label musik saat ini makin gencar berkampanye untuk download musik melalui iTunes pada beragam materi promosinya. Walau pemakai iOS Devices termasuk niche serta tak semuanya aktifkan kartu credit, tetapi tinggginya apresiasi customer untuk mengunduh lagu digital dengan cara legal dapat jadi titik cerah bangkitnya industri musik di Indonesia.

Widi Asmoro, Entertainment Manager di Nokia, pada situs (blog) pribadinya menyebutkan kalau dia lihat perubahan music streaming di Indonesia makin baik terlebih masuk th. 2014 yang menandai satu masa baru di usaha musik dalam negeri.

Bila melihat ke belakang, industri musik rekaman di Indonesia mencicipi gemilangnya saat product fisik disukai orang-orang. Di th. 2000 perlahan-lahan ada musik dalam format digital baik itu full song MP3 maupun ringtone monophonic serta polyphonic. Peran cukup bagus terlebih waktu CD serta kaset ramai dibajak. Lalu lesu waktu pembajakan makin menjalar waktu tehnologi peer-to-peer serta penduplikasian lagu semakin gampang dikerjakan. Sampai masuklah masa ring back tone (RBT) pada th. 2005 yang pernah booming tetapi nyatanya cuma berbentuk “bubble” yg tidak diantisipasi hingga meletus di th. 2011 dengan terjadinya tsunami content atau RBT Black Out.

Menurut pria yang kian lebih 10 th. menekuni di industri musik ini, Ringback tone sudah mengajari kita bagaimana tingkah laku manusia modern nikmati musik yang inginnya setiap saat serta dimanapun. “Kemudahan akses yaitu keyword ampuh supaya musik yang di buat hingga pada beberapa fans, ” catat Widi di situs (blog) Music Enthusiast.

Hadirnya YouTube dengan cara resmi satu tahun paska RBT Black Out membawa efek positif untuk industri musik. Ini tampak dari kegiatan yang dikerjakan dengan cara agresif oleh label musik tunjukkan potensi besar yang digali dari basis video on-demand ini. Service video streaming ini begitu disukai juga oleh beberapa fans musik lantaran bisa temukan lagu yang mereka kehendaki tanpa ada butuh mendaftar serta membayar, baik dari laptop, hp sony xperia ataupun tablet. Untuk label rekaman, makin kerap video musiknya dilihat serta makin kerap iklan tampil dalam video musiknya bakal membuahkan revenue yang bagus juga.

Terkecuali iTunes serta YouTube, service global yang lain yang juga menarik diamati yaitu Nokia Mix Radio. Service yang awalannya bernama Ovi Music serta Nokia Music ini terlebih dulu memberi download lagu utuh, lalu merubah preposisinya jadi service berbasiskan radio streaming dengan nama baru Nokia MixRadio.

Indonesia juga kehadiran Deezer yang menggandeng Slank serta Guvera yangvmulai gencar berpromosi. Service Spotify yang digemari diluar negeri beritanya akan selekasnya menegur Indonesia. Dari Tanah Air, ada pula service yang dipelopori oleh operator selular seperti Melon punya Telkom grup, Indosat Backstage, XL MusikKamu, serta Gudang Musik Smartfren. Beragam service musik ini memberi kesempatan untuk mendistribusikan musik lebih luas serta dengan pengalaman marketing dan dana untuk lakukan promosi.

Baca Juga : Alat Musik Garantung, Khas Suku Dayak Kalteng

Berdasar pada laporan tahunan “Digital Music Report” yang di keluarkan International Federation of the Phonographic Industry’s (IFPI) pada Maret 2014, bertumbuhnya selera pengagum musik untuk service berlangganan serta layanan streaming menolong mendorong penambahan pendapatan di beberapa besar pasar musik paling utama pada th. 2013, dengan pendapatan digital keseluruhannya tumbuh 4, 3 %.

Pasar digital selalu lakukan diversifikasi dengan pendapatan dari service berlangganan serta layanan streaming, seperti Spotify serta Deezer, tumbuh 51, 3 %, melalui angka US $ 1 miliar untuk awal kalinya. Sedang pendapatan dari streaming berlangganan yang disisipi iklan sebesar 27 % dari pendapatan digital, naik dari 14 % pada th. 2011. Diprediksikan, saat ini kian lebih 28 juta orang di semua dunia yang membayar untuk berlangganan musik, naik dari 20 juta pada th. 2012 serta cuma delapan juta pada 2010.

Dari kenyataan itu, makin tampak cerahnya hari esok industri musik digital walau di segi lain masihlah dibayang-bayangi oleh tindakan pembajakan. Karenanya, memakai sedini mungkin saja tehnologi streaming lewat bebrapa basis yang legitimate dapat jadi celah memperoleh untung. Untuk beberapa musisi berdiri sendiri, ini malah jadi kesempatan bagus. Mereka dapat mengoptimalkan kreatifitas serta berhimpun dengan aggregator musik untuk memberi posisi tawar tambah baik serta keringanan diketemukan oleh penggemar musik.

Era Baru Industri Musik Digital | Rahimawati Imut | 4.5